Kontes Miss Indonesia dan Moral Bangsa Aceh

Saya memberikan apresiasi  kepada pmerintah aceh yang telah telah berusaha  mengambil sikap tegas untuk menolak kontes kecantikan 
Wakil Aceh di Miss Indonesia dan kontes Puteri Indonesia

keberadaan dua konstestan yang menobatkan diri sebagai wakil Aceh di kontes Miss Indonesia dan Puteri Indonesia, telah mencoreng nama baik Aceh sebagai negeri syariat justru memberi citra buruk untuk Aceh,

Wakil Aceh di Miss Indonesia adalah Ratna Nurlia. Ratna adalah model asal Surabaya dan lahir di Surabaya, 17 Desember 1994.

Sedangkan di kontes Puteri Indonesia yang mewakili Aceh adalah Jeyskia Ayunda Sembiring. Gadis ini berasal dari Riau.

Sayang seribu sayang, kedua ‘wakil’ Aceh ini tidak memakai jilbab serta tidak berbusana Islami.

Keikutsertaan  mereka illegal. Karena pemerintah  tak pernah memberikan rekomendasi apapun untuk hal seperti ini,ini jelas bertolak belakang dengan budaya Aceh yang Islami.
Mereka berdua bukan gadis Aceh, mereka hanya  mencantumkan nama daerah Aceh dengan dalih mereka pernah tinggal di aceh atau orang tua kakek neneknyanya asal aceh, yang jelas keikutsertaan mereka sangat mencoreng kearifan local Aceh yang kental dengan agama dan syariat Islam,

Kenapa tidak tampil saja atas nama pribadi kenapa harus bawa nama daerah Aceh, mungkin mereka berfikir orang Aceh bangga dengan keikut sertaan Di ajang Kontes Kecantikan Miss Indonesia, tidak! Justru orang aceh tidak nyaman dengan kehadiran kalian dilayar kaca yang ada hanya merusak pemandangan

Yang pasti bukan sebuah kebanggaan bagi masyarakat Aceh memiliki wakil yang disebut salah satu ajang bergengsi di Indonesia. Provinsi yang menjunjung tinggi syariat Islam ini tidak ingin memiliki wakil di ajang tersebut.

Hal ini dibuktikan dari sejumlah komentar disosial media dan dunia nyata yang sangat risih dengan penampilan kedua gadis itu karena tidak menggunakan jilbab dan jelas mengumbar mengumbar aurat.

Pemerintah harus tegas bahwa tidak ada izin dari pemerintah untuk membawa nama Aceh dalam kontes semacam  itu. Banyak diantara mereka yang telah ikut serta hanya membawa nama Aceh karena keturunan saja, sedangkan dia sendiri tidak mengerti Aceh

Titih balik

Kita berharap kepada pemerintah aceh juga harus membuka Mata, fenomemena Kontestan Miss Indonesia sama perbandingan dengan kontes diaceh itu sendiri,contoh paling nyata coba lihat diaceh begitu banyak film Aceh entah itu Vidio klip, filem Dukumentasi atau filem komedi, bukankan peran gadis Aceh dalam film/klip itu kebanyakan menampakkan aurat tidak munggunakan jilbab, ini jelas bertolak belakang dengan budaya Aceh yang Islami.  kenapa yang berada dilingkungan kita sendiri pemirintah menutup mata, seolah mengabaikan bukankah kasus yang ini sama halnya dengan kasus kontes Miss Indonesia dan Puteri Indonesia, Apa semacam ini tidak tidak termasuk dengan mencoreng nama baik Aceh?

Seperti kata pepatah Gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang lautan terlihat, ungkapan semacam ini mungkin cocok!

Sebelumnya saya mohon maaf kepada Produser, Sutradara, Aktor/Aktris (pemain Film) bukan bermaksud untuk  menghambat peran kalian dalam industri perfileman,  saya sedang berbicara tentang Moral, Alangkah baiknya jika perfileman Aceh kedepan harus sesuai dengan karakter aceh yang Islami, jika tidak menggunakan jilbab itu jelas bertolak belakang dengan budaya Aceh yang Islami,

bagaimanakah komentar Cut Nyakdhien Cut Muetia seandainya beliau masih hidup???
Semoga popularitas tidak menutup iman mereka tentang kewajuban menutup Aurat
sekian dari saya

Salam Damai 

loading...

Artikel Portal Fia Lainnya :

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © 2016 Portal Fia | Powered by Blogger