Sebelum Ajal Menjemput, Bocah Ini Sempat mengatakan Saya Akan Mati Malam Ini

Kisah seorang bocah Ayu Azahara yang dibakar Tetangga.

Kisah seorang bocah Ayu Azahara yang dibakar Tetangga.

BANDA ACEH - Kematian bocah yang berusia enam tahun yang bernama  Ayu Azahara, putri dari pasangan Abdullah dan Hamidah, warga Desa Pandrah Janeng, Kecamatan Pandrah Janeng, Kabupaten Bireuen. korban pembakaran oleh tetangganya menyisakan luka mendalam. Menjelang mengembuskan nafas terakhir di RSU Zainoel Abidin Banda Aceh, Senin (14/9) sekitar pukul 03.05 WIB, Ayu Azahara sempat meminta pulang ke rumah. “Lon mate malam nyoe (saya mati malam ini),” kata Ayu Azahara sambil mengajak ibunya pulang dari rumah sakit.

Saat-saat menjelang meninggalnya bocah malang tersebut, orangtua dan saudara-saudaranya yang menunggui di rumah sakit sempat mendengarkan berbagai macam permintaan terakhir dari sang putri. Ayu berpesan kepada orang tuanya untuk ingat kepada Ilahi dan membaca Kitab Suci. “Mak neumeuratep Mak, neubaca Yasin Mak (Mak berzikir, Mak, baca Yaasin, Mak),” kata sang ibu, Hamidah (48) kepada Serambi, mengenang ucapan putrinya menjelang ajal.

Bukan hanya menyuruh ibunya untuk berzikir. Tapi bocah ini juga ikut berzikir dan membaca Surah Al-Fatihah hingga tuntas tujuh ayat. Kemudian Ayu melanjutkan membaca surah Al-Masad hingga mengakhiri lima ayat dengan tuntas. Selanjutnya Ayu turut berdoa untuk kesembuhannya. “Neubi hai Po beu panyang umu lon untuk jak beut (berilah wahai Allah umur saya yang panjang untuk pergi mengaji),” ujar Ayu.

Ibu Ayu yang berlinang air mata langsung merespons pesan anak kesayangnya. Ia pun berzikir seperti yang diminta oleh anaknya Ayu . Meski mulutnya kesulitan berucap saat air mata tak terbendung di pipinya, sang ibu berusaha untuk berzikir semampunya. Suaminya Abdullah pun tak kuasa menahan tangis kesedihan di malam terakhirnya bersama sang putri tercinta.

Firasat Hamidah terhadap anaknya Ayu membuat ia menyuruh suaminya Abdullah untuk memanggil dokter. “Lon yue jak ayah jih untuk hoi dokter (saya suruh ayah Ayu untuk panggil dokter),” kata Hamidah.
Kemudian seorang perawat wanita datang memberi semangat dan memuji ketabahan Ayu. “Dek Ayu get akai (dek Ayu baik ya),” ungkap perawat itu.

Ternyata Ayu membalas komentar perawat itu, bahwa dirinya memang anak yang baik. “Syit get akai lon (memang baik budi saya),” ungkap Ayu. Kemudian Ayu melanjutkan kembali kata-katanya. “Lon meujak woe, hana lon theun neu infus le (saya mau pulang, tidak mau lagi saya diinfus),” ungkap Ayu yang meminta jangan diinfus lagi.

Perawat tersebut balik bertanya kepada Ayu, alasannya kamu kenapa nak tidak mau diinfus lagi. “Pakon Dek Ayu jak woe? (kenapa dek Ayu mau pulang?),” tanya perawat.
Namun, seisi ruangan sangat terkejut saat Ayu kembali melanjutkan kata-katanya. “Lon mate malam nyoe (saya mati malam ini),” perawat dan orang tua Ayu sangat terkejut mendengar itu.
Tapi perawat itu kembali berusaha menenangkan Ayu. “Hana mate Ayu (tidak mati Ayu),” timpal perawat.

Ayu yang terbaring dengan perban putih seperti mengetahui bahwa takdirnya malam itu. Ayu meminta perawat bersama keluarganya untuk menunggu. “Miseu hana pateh lon mate malam nyoe, neungieng inoe (kalau tak percaya saya mati malam ini, lihat sekarang),” jawab Ayu makin membuat jantung perawat dan keluarganya berdebar.

Ternyata bocah tersebut menyakini ucapannya. Seolah sudah datang malaikat yang memberi tahu kepergiannya. Hingga ia berani mengatakan itu kepada perawatnya. Seisi ruangan semakin terkejut menyaksikan detik-detik menjelang Ayu pergi. Karena kemudian terdengar bunyi tersedak dari kerongkongannya seperti orang kekenyangan usai makan. Ternyata itulah isyarat terakhir, karena setelah itu Ayu diam untuk selamanya. Dokter pun memeriksa dan memastikan ternyata Ayu benar-benar sudah tiada.

Tangis pun pecah pada malam itu. tidak ada seorangpun yang mampu membendung air mata dan kesedihan. Bahkan perawat pun merasa sangat penasaran dengan kejadian yang disaksikannya. “Get that rame mate ureung, hana lon ngieng lagee aneuk manyak nyoe (begitu banyak orang yang meninggal, tapi tidak pernah saya lihat seperti anak kecil ini),” ungkap perawat itu saat melihat detik-detik terakhir Ayu.

Keluarga Ayu menceritakan kalau anaknya pada malam itu sempat menitip pesan. Ia meminta ayahnya menitipkan pesan kepada guru pengajiannya di gampong yaitu Tgk Mansur. “Ayah neujak bak guree lon Tgk Mansur, ileumee yang ka geubi keu lon, neuyue peu izin donya akhirat (ayah, pergi ke guru ngaji saya Tgk Mansur, ilmu yang sudah diberikannya untuk saya, supaya diizinkan dunia akhirat),” pesan Ayu malam itu.
loading...

Artikel Portal Fia Lainnya :

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © 2016 Portal Fia | Powered by Blogger