Bergek, Raja Baru di Blantika Musik Aceh

Bergek, Raja Baru di Blantika Musik Aceh

Ribuan massa yang memadati Stadion Kuta Asan, Sigli, Kabupaten Pidie, kemarin, seakan menegaskan bahwa sosok Bergek sebagai raja baru di blantika musik Aceh. Bergek Terjun ke dunia tarik suara sejak masih bocah, Bergek mulai menemukan bintangnya, seiring dengan meledaknya album “Dikit-Dikit” yang dirilis pada 2015 lalu, nama bergek kini mulai sering diperbicangkan oleh anak-anak sampai muda mudi daerah ini. Lirik sejumlah lagu bergek pada album (Dikit-Dikit) kerap terdengar di mulut remaja hingga pada bocah sekalipun. Aksi Bergek yang sangat menghibur, membuat dia kebanjiran order untuk mengisi hiburan di berbagai acara, hingga sampai konser di lapangan sepakbola.

Bergek, Raja Baru di Blantika Musik Aceh

Penyanyi yang lahir pada tahun 1992 di Pantonlabu, Aceh Utara tersebut kini sedang melakukan tour keliling Aceh menggelar konser Sosialisasi Bahaya Narkoba. Seperti yang diselenggarakan di Stadion Kuta Asan atas kerja sama Orend Entertainment serta Polres Pidie pada Sabtu (20/2), konser yang sama sebelumnya juga diselenggarakan di Nagan Raya.

Begitulah, popularitas Bergek yang bernama asli Zuhdi, Bergek kini memang sedang menjadi (buah bibir) di kalangan masyarakat Aceh, Meski hampir semua lagu Bergek berirama saduran, namun lagu-lagu dia punya ciri khas tersendiri, terutama liriknya yang melow dan juga kocak, serta dikombinasikan antara bahasa Aceh dengan bahasa Indonesia.

Saat ini, album Bergek begitu melejit di pasar musik Aceh, itu merupakan lagu yang dikemas dalam satu album, diantaranya yang berjudul Boh Hate, Dikit-Dikit, Aneuk Dadu, Gaseh Kaleukang dan juga Saba. Album dengan jumlah 12 lagu tersebut mampu terjual di pasaran mencapai 100 ribu keping lebih. Angka penjualan lagu ini cukup fantastik, dibandingkan dengan album Bergek yang lainnnya.

Bergek yang diwawancarai Serambi di Sigli, pada sabtu (20/2) mengatakan, ia terjun ke dunia musik sejak tahun 2005. Saat itu, dia bermain bersama teman-teman dalam sebuah film komedi Aceh yang berjudul "Cinta Sedarah" dan juga "Aneuk Lang Lang". Kedua film tersebut kurang diterima oleh pencinta film di Aceh. Dari dua film komedi tersebut, sebut Bergek, gurunya bernama M Nur Karma meminta anak muda kelahiran Panton Labu ini merilis satu album bertajuk Bergek. Jadi nama Bergek tersebut diambil dari dua film komedi Aceh tersebut. Dalam bahasa Aceh bergek artinya batat "susah diatur",” ungkap pelantun lagu Dikit Dikit itu.

Seiring berjalannya waktu, tepatnya pada 2009 lalu, Bergek merilis satu lagu berjudul "Menghayal". Lagu Menghayal ini memang sempat populer, tapi tak bertahan lama,” kata Bergek. Pada tahun 2015 lalu, Bergek kembali merilis beberapa lagu diantaranya adalah Boh Hate, Dikit-Dikit, Gaseh Kaleukang, Beukah Ganteng, 360, dan Saba. Lagu tersebut terbukti mampu menghipnotis masyarakat pencinta lagu Aceh. 

Bahkan untuk album Boh Hate itu mampu terjual 100 ribu keping lebih. Lagu-lagu ini berirama India yang dikombinasikannya dengan dangdut, pop-dangdut dan juga  Melayu, Dipadukan empat irama ini, Ungkap Bergek. Menurut dia proses menciptakan sebuah lagu tersebut sulit di bagian vokal. Apalagi lagu Bergek tersebut dipadu dengan empat aliran musik, sehingga untuk membuat satu album butuh waktu yang tidak sebentar. “Saat ini saya sedang menggarap lagu baru yang judul Suet Bajee Jih Blou. Kini sedang dalam proses rekaman,” Ungkap Penyanyi Fenomenal Aceh Bergek.

Terkait dengan konser yang digelar di Stadion Kuta Asan Sigli, kemarin, hendaknya menjadian pesan moral bagi segenap masyarakat Pidie, khususnya untuk anak muda agar menjauhi narkoba. Sebab, narkoba sangat dilarang dalam agama dan juga negara. “Jadi, marilah kita hidup sesuai dengan tuntunan agama dan menjauhi narkoba, tutupnya.

Sumber: http://aceh.tribunnews.com/

Lihat juga artikel Menarik lainnya:
loading...

Artikel Portal Fia Lainnya :

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © 2016 Portal Fia | Powered by Blogger