Inilah Pengkhianatan Indonesia Untuk Aceh, Siapakah yang MUNAFIK?

Inilah Pengkhianatan Indonesia Untuk Aceh, Siapakah yang MUNAFIK?

Sebagai warga negara Indonesia sungguh keterlaluan rasanya jika tidak mengenal Aceh. Karena letaknya diujung oleh karena itu banyak yang menganggap Aceh merupakan sesuatu yang asing dan terbelakang. Apalagi Aceh hadir dengan otonomi sendiri yang khas dengan agamanya membuat Aceh sering dimaki dan dihina di zaman sekular ini.
Pengkhianatan Indonesia Untuk Aceh
Aceh dahulu merupakan sebuah negeri yang hebat serta makmur. Letaknya yang strategis membuat Aceh menjadi sebuah tempat berdagang yang sangat padat. Ditambah lagi dengan kesuburan negeri dengan berkah akan rempah-rempahnya.

Dulu Aceh merupakan daerah yang berdaulat, kekuasaannya memanjang dari selat Malaka sampai ke Thailand. Mungkin kita mengenali ciri khas Thailand dengan gajah putihnya. Gajah putih itu sendiri dikenal dan erat dengan Aceh. Sultan Perlak pada pada 1146 juga gemar mengendarai gajah yang berhias emas, sebagaimana yang kami dikutip Djamil dari Kitab Rihlah Abu Ishak al-Makarany. Sementara Marcopolo menyebutkan Samudra Pasai sebagai kerajaan yang mempunyai banyak gajah, dan sebagian besar kepunyaan raja-raja.

Kebesaran kerajaan Aceh menjadikan Aceh merupakan salah satu negri yang sederajat dengan negri-negri besar Islam lainnya. Saking berdaulatnya, tidak ada satu bangsa pun yang mencoba menjajah Aceh. Sejak kedatangan bangsa Portugis hingga Jepang. Bahkan sampai peperangan rakyat Aceh terhadap pemerintah.

Saat Malaka berada dibawah naungan Inggris, fihak Inggris pun mengakui kedaulatan bangasa Aceh. Disaat Indonesia tepatnya Sumatra sudah dikuasai oleh Belanda, Aceh yang saat itu bersatu dengan Malaka dibawah lindungan Inggris pun hendak dikuasai oleh Belanda. Aceh dengan terang-terangan menolak Belanda, sehingga dibuatlah sebuah perjanjian Belanda dengan Inggris yang dikenal dengan Traktat Sumatra yang isinya dimana bekas jajahan Belanda di Afrika "Gold Coast -sekarang Ghana" diserahkan kepada Inggris dan jajahan Inggris di Sumatera "yaitu Bengkulu" diserahkan kepada Belanda. Untuk menguasai seluruh Sumatera jika perlu Belanda akan memerangi Aceh. Perjanjian itu ditanda tangani pada tahun 1871. Dan disitulah meletusnya perjuangan Aceh, saat kedatangan Belanda rakyat Aceh langsung dapat membunuh panglima besar angkatan perng Belanda Jendral Kohler didepan Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

Bukan hanya itu saja jasa Aceh untuk Indonesia, Aceh adalah salah satu wilayah yang tidak sempat dijajah seluruhnya oleh kaum Belanda. Hingga pada saat Indonesia lumpuh ketika agresi Belanda kedua dan Yogyakarta dan Bukittinggi yang saat itu menjadi Ibu kota Indonesia jatuh ditangan Belanda maka Acehlah satu-satunya daerah yang masih mampu bertahan.

Tidak ada pilihan lain, Presiden Indonesia Soekarno terpaksa mengasingkan diri ke Aceh. Tepatnya di Bireuen, yang relatif aman. Soekarno hijrah ke Bireuen dengan menaiki pesawat udara Dakota. Pesawat udara khusus yang dipiloti Teuku Iskandar tersebut, mendarat dengan mulus di lapangan terbang sipil Cot Gapu pada bulan Juni 1948 yang kemudian disambut oleh Tgk Daod Bereueh panglima Divisi X, para perwira militer Divisi X, Kolonel Hussein Joesoef, alim ulama dan para tokoh masyarakat.
Pengkhianatan Indonesia Untuk Aceh
Seminggu Presiden Soekarno berada di kota Bireun, aktifitas militer pun berpusat disana sehingga kota Bireun pun dikenal dengan sebutan Kota Juang. Kemudian Ir. Soekarno memanggil Tgk Daud Bereueh dengan sebutan kakak. Dalam sebuah dialog Ir. Soekarno meminta Tgk Daud Bereueh untuk mengajak rakyat Aceh agar memperjuangkan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Tgk Daud Bereueh menerima permintaan Ir Soekarno dengan syarat agar perjuangan rakyat Aceh dalam fisabilillah. Ir Soekarno mengiyakan hal tersebut, "Kakak! Memang yang saya maksudkan adalah perang yang seperti telah dikobarkan oleh pahlawan-pahlawan Aceh yang terkenal seperti Teungku Cik Di Tiro dan lain-lainnya, yaitu perang yang tidak pernah kenal mundur, perang yang bersemboyan merdeka atau syahid." ungkapnya.

Tgk Daud Bereueh meminta kepada Presiden Indonesia Ir. Soekarno agar kelak jika perjuangan ini telah usai agar diberikan kebebasan kepada "Aceh" untuk menerapkan Syariat Islam. Sang Presiden Presiden Indonesia Ir. Soekarno pun mengabulkan permintaannya. Tgk Daud meminta kepada Presiden Indonesia Ir. Soekarno agar menanda tangani hitam diatas putih agar dinampakkan kepada rakyat Aceh. Soekarno bersumpah akan hal tersebut.

Pada tanggal 16 Juni 1948, Ir. Soekarno dan Tgk Daud Bereueh dari Bireun berkunjung ke Kutaraja "sekarang Banda Aceh" tepatnya di Atjeh Hotel seraya mengutarakan kebutuhan RI akan pesawat buat memperkuat pertahanan udara dan mempererat hubungan antar pulau. Diceritakan Presiden Ir. Soekarno sempat mogok makan sebelum diberikan jawaban oleh Tgk Daod Bereueh. Dalam dua hari, pengusaha Aceh yang tergabung dalam Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh "Gasida" berhasil mengumpulkan 130 ribu straits-dollar, serta ditambah emas 20 kilogram. Uang tersebut sejatinya cukup untuk membeli dua pesawat. Pesawat itu dikenal dengan nama Dakota RI 001 Seulawah dan Dakota RI 002 Seulawah yang merupakan cikal bakal kedirgantaraan di Indonesia. Dengan kata lain, rakyat bangsa Aceh memiliki saham atas perusahaan penerbangan Indonesia, Garuda.

Radio Hervenzent Belanda di Batavia menyiarkan berita bahwa Indonesia sudah tak ada lagi. Maka bangkitlah Radio Rimba Raya yang mengudara ke seluruh dunia pada tanggal 20 Desember 1948  untuk memblokade siaran propaganda dalam enam bahasa, Indonesia, Urdu, Inggris, Cina, belanda dan juga bahasa Arab. Dalam siaran bohong Radio Belanda seluruh wilayah nusantara sudah habis dikuasai Belanda. Padahal, Aceh masih tetap utuh dan tak pernah berhasil dikuasai kaum Belanda.

Oleh karenanya Pesawat Dakota RI 001 dan 002 serta Radio Rimba Raya merupakan cikal-bakal Garuda Air Ways dan juga Radio RRI saat ini. Satu tahun kemuidian Aceh bersedia dijadikan satu provinsi sebagai bagian dari NKRI. Namun pada tahun 1951, belum kering bibir mengucap, Provinsi Aceh dibubarkan pemerintah pusat dan disatukan dengan Provinsi Sumatera Utara. pada lain kesempatan, di hadapan ribuan pendukungnya di Sulawesi, Soekarno pidato berapi-api, "Tak ada Syariat Islam di Indonesia" Dek! Rakyat Aceh tersentak.

Teringat ucapan manis dibibir akan janji dahulu.

"Untuk apa Indonesia merdeka?" Ir. Soekarno menjawab: Untuk Islam kak. Dia memanggil kakak kepada saya. Saya kemudian tanya lagi, betulkah ini?. Jawabnya, "betul kak". dan saya tanya sekali lagi, betulkah ini?. Dia jawab, betul kak. Saya ulangi lagi, betulkah ini?.  Jawabnya ...Waallah Billah, Aceh nanti akan saya beri hak untuk menyusun rumah tanggannya sendiri sesuai dengan Syari’at Islam. Akan saya pergunakan pengaruh saya agar rakyat Aceh benar-benar dapat melaksanakan Syari’at Islam. Apakah Kakak masih ragu...?? "Tgk Daud Bereueh"

Rakyat Aceh sangat tidak suka untuk dikhianati. Abu Daud Bereueh kemudian bangkit, didirikannya lah DI/TII sebagai bentuk perlawanan dari sebuah pengkhiatanan. Rakyat Aceh porak-porannda setelah sekian lama berjuang membela Indonesia, memberikannya harta benda dan jiwa raga. Namun dibalas dengan Racun yang berbisa.

Soekarno mangkat, Jenderal Soeharto naik tahta. Ternyata, tidak juga perubahan dirasakan rakyat Aceh. Penderitaan semakin berat. Luka semakin tersayat-sayat. Mengiris-mengiris bagai sembilu di dada rakyat Aceh.

Soeharto memang sukses menumpas DI/TII. Tapi Soeharto tidak pernah bermimpi bisa melumpuhkan perjuangan gerakan pemberontak baru di Aceh yang menamakan diri mereka GAM "Gerakan Aceh Merdeka". Pentolan- pentolan GAM seperti Hasan Tiro "cucu pahlawan Teuku Tjik Di Tiro- pen" meminta restu pada Tgk Daud Bereueh untuk meneruskan perjuangan DII/TII yang telah mengarah pada upaya mewujudkan Negara Islam Aceh Merdeka.

Soeharto tidak hilang akal, DOM "Daerah Operasi Militer" Jilid I dan DOM Jilid II pun digelar. Puluhan ribu tentara dikirim ke Aceh. Dari berbagai satuan serta bermacam nama operasi. Yang terkenal adalah Operasi Jaring Merah yang disinyalir telah melakukan pembantaian besar-besaran terhadap Aceh.

Pengkhianatan-pengkhianan terus berlanjut sampai saat ini. kita semua pasti tau Tugu Monas yang dihiasi oleh 28 kg emas dan dibanggakan warga Jakarta itu kan?. Perkenalkan, namanya Teuku Markam, ia adalah salah seorang saudagar kaya dari Aceh keturunan Ulebalang "panglima kerajaan" yang hidup juga pada masa Ir. Soekarno. Juga salah seorang pasukan Tentara Rakyat Indonesia dengan pangkat Letnan Satu. Bisnis Teuku Markam dengan Pt. Karkam mengimpor mobil Hardtop  Toyota dari Jepang, besi beton, plat baja dan mengimpor senjata atas persetujuan Departemen Pertahanan dan juga Keamanan "Dephankam" dan Presiden. Komitmen Teuku Markam merupakan mendukung perjuangan RI sepenuhnya termasuk pembebasan Irian Barat serta pemberantasan buta huruf yang dilakukan oleh Ir. Soekarno.
Pengkhianatan Indonesia Untuk Aceh
Teuku Markam (lingkar merah) bersama Teuku Umar
Seperti halnya pejuang Aceh lainnya. Teuku Markam kemudian dikhianat dan difitnah sebagai PKI, Koruptor, dan Soekarnoisme pada kepemimpinan Soeharto. Pada tahun 1966 dia ditahan tanpa proses pengadilan. Soeharto, Ketua Presidium Kabinet Ampera I, pada tanggal 14 Agustus 1966 mengambil alih aset Teuku Markam berupa perkantoran, tanah dan lain sebagainya, yang kemudian dikelola PT. PP Berdikari yang didirikan Suhardiman, Bustanil Arifin, Amran Zamzami atas nama pemerintahan RI. Pada tahun 1974 silam, Soeharto mengeluarkan Keppres N0 31 Tahun 1974 yang isinya antara lain penegasan status harta kekayaan eks PT Karkam/PT Aslam/PT Sinar Pagi yang diambil alih pemerintahan RI tahun 1966 berstatus pinjaman yang nilainya sejumlah Rp 411.314.924 sebagai modal negara di PT. PP Berdikari. Dan pada tahun 1974 ia bebas, 1985 ia meninggal karena kompilasi penyakit.

Lihat Juga Artikel Menarik lainnya:
loading...

Artikel Portal Fia Lainnya :

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © 2016 Portal Fia | Powered by Blogger