Dosa Tentara di Serambi Mekkah

Dosa Tentara di Serambi Mekkah

Bertahun tahun bangsa Aceh menanggung kebiadaban TNI selama operasi militer menumpas Gerakan Aceh Merdeka "GAM". Serupa dengan kasus 65, darah yang membalur Serambi Mekah adalah dosa yang selamanya menghantui militer Indonesia.

Dosa Tentara di Serambi Mekkah

  • Perintah dari Istana

Pada tanggal 19 Mei 2003 silam, Presiden Megawati melancarkan operasi militer di Aceh dengan mengirimkan lebih dari 30.000 serdadu dan juga 12.000 polisi. Sebelumnya Gerakan Aceh Merdeka menolak status otonomi khusus yang ditawarkan oleh pemerintah. Perang yang dikobarkan oleh presiden Megawati berlangsung selama setahun.

  • Berpaling Simpati

Perang pemberontakan Aceh tahun 1990-1998 termasuk yang paling rentan pelanggaran Hak Asasi Manusia HAM. Selama delapan tahun lamanya sekitar 12.000 nyawa menghilang, kebanyakan adalah warga sipil di Aceh. Kebiadaban TNI masa itu diyakini justru menambah simpati rakyat Aceh terhadap gerakan separatis.

  • Kejahatan Demi NKRI?

Tahun 2013 lalu Komnas HAM menyelidiki lima kasus kejahatan perang selama masa DOM 1990-1998, yakni tempat penyiksaan Rumoh Geudong, pembantaian massal di Bumi Flora, Aceh Timur dan juga Simpang KKA di Aceh Utara, serta kasus penghilangan paksa dan kuburan massal di daerah Bener Meriah.

  • Intimidasi Demi Informasi

TNI berikrar akan lebih hati-hati selama operasi militer di Aceh pada tahun 2003. Tapi serupa di Timor Leste, tentara dilaporkan sering mengintimidasi penduduk desa untuk mengungkap tempat persembunyian para pemberontak. Human Rights Watch mencatat berbagai kasus penculikan serta penganiayaan anggota keluarga terduga gerilayawan. Desember 2003 silam Polri memerintahkan akan "menembak mati" siapapun yang "membawa bendera GAM.

  • Pondok Kelabu

Pada tanggal 17 Mei 2003 lalu tiga truk tentara mendatangi desa Jambo Keupok, Aceh Selatan. Di sana mereka menginterogasi para penduduk desa ihwal persembunyian GAM. Hasilnya 16 penduduk tewas saat itu. Sebagian ditembak, ada yang disiksa atau bahkan ada yang dibakar hidup-hidup, tulis Komisi untuk Orang Hilang, Kontras. Insiden tersebut kemudian dikenal dengan nama Tragedi Jambo Keupok.

  • Media Propaganda

Berbeda dengan DOM tahun 1990-1998, TNI menggandeng media untuk menguasai pemberitaan ihwal perang di Aceh. Wartawan contohnya dilarang mengutip sumber dari GAM. "Saya berharap wartawan menulis dalam kerangka "NKRI". Kalau saya terkesan keras, harap dimaklumi," ungkap penguasa darurat militer Aceh pada saat itu, Mayjen Endang Suwarya.

  • Adu Klaim Soal Korban

Selama satu tahun lamanya antara bulan Mei 2003 hingga 2004, sebanyak 2000 orang meninggal dalam pertempuran. TNI mengklaim bahwa semuanya adalah gerilayawan GAM. Namun berbagai LSM dan juga termasuk Komnas HAM membantah klaim tersebut. Sebagian besar para korban ternyata warga sipil biasa.

  • Pagar Manusia

Salah satu strategi Anggota TNI adalah membangun "pagar betis" yang terdiri dari warga sipil. Mereka diperintahkan untuk menyisir sebuah kawasan yang diduga dijadikan tempat persembunyian para "GAM". Dengan cara tersebut, TNI berharap "GAM" tak akan menembak dan mau keluar dari sarangnya.

  • Tanpa Keadilan

Berbagai penyelidikan yang dilakukan oleh LSM Kemanusiaan dan juga Komnas HAM terkait kejahatan perang di Aceh gagal membuahkan keadilan untuk para korban. Hingga sampai sekarang sebagian rakyat Aceh masih hidup dengan trauma karena perang.
sumber: www.dw.com

Artikel terkait:
loading...

Artikel Portal Fia Lainnya :

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © 2016 Portal Fia | Powered by Blogger